3 Kutipan Pendobrak Daya Juang

Sebagaimana kita tahu, hidup adalah perjuangan menggapai cita-cita, dan yang namanya perjuangan pasti butuh semangat yang kuat. Ibarat sebuah perjalanan, semangat itu bahan bakar pada kendaraan dan cita-cita itu tujuannya. Kalau gak sedia bahan bakar yang cukup, kita gak bakal sampai di tujuan. Untuk itu penting kiranya menjaga semangat supaya tetap ada.

Banyak cara yang dilakuin orang-orang untuk menyuplai semangat ke dalam diri. Ada yang dengan membandingkan pencapaiannya dengan orang lain, ada yang datang ke seminar motivasi, ada pula yang cukup dengan melihat daftar cicilan bulanan.

Lanjut baca…

Kacamata Baru dari Seorang Guru

Ada kejenuhan dalam diri saya saat buka media sosial dan mendapati kebanyakan akun-akun dakwah memposting tentang tiga hal: rezeki, jodoh dan dajjal. Sebagai orang awam, dicekoki ketiga hal tersebut membuat nalar saya kembang-kempis, hingga timbullah pikiran yang enggak-enggak.

Kapan ya, kira-kira, rezeki dalam bentuk jodoh saya tiba?

Bagaimana kalau yang tiba duluan malah dajjal?

Apa KUA tetap buka buka meski dajjal udah berkeliaran?

Ya Allah, kenapa saya mikir begini?

72 Jam Tanpa Handphone

Kereta melaju santai dari stasiun Jatinegara menuju Manggarai. Suasana tidak ramai seperti biasanya. Jika mau, beberapa orang bisa selonjoran atau rebahan di bangku-bangkunya. Mungkin karena langit sudah terlampau pekat, sebagian pengguna KRL sudah lebih dulu rebah di ranjang hangat di rumah-rumah mereka.

Aku duduk tepat di bagian tengah bangku yang panjang. Kepalaku bersadar pada aluminium pembatas antara dua jendela. Sesekali mataku terpejam. Merasakan terpaan udara yang diembuskan oleh mesin pendingin ruangan. Merasakan letih yang menjalar di sekujur tubuhku dengan malu-malu. Membayangkan sesampainya di rumah aku disambut Ayana Jihye Moon.

Bibirku menyungging tipis.

Lanjut baca…

Membanding-bandingkan Hidup

Udah lama saya berniat nulis di blog ini lagi tapi belum ada hal yang mendorong saya dengan kuat untuk segera melakukanya, sampai akhirnya saya buka twitter dan menemukan sebuah twit sederhana dari seorang teman. Begini:

2018: Yogyakarta – Surabaya – Lombok – Yogyakarta – Palembang – Bandung – Yogyakarta – Jambi – Surabaya – Bali

Paham kan maksudnya?

Jadi, sepanjang tahun ini dia udah berkunjung ke kota-kota tersebut, bahkan ada satu kota yang dikunjungi sampai tiga kali. Tiba-tiba aja saya jadi membandingkannya dengan diri sendiri. Ingatan saya mundur jauh ke belakang seraya mencatat tempat-tempat yang saya kunjungi di tahun ini. Dan jika dibuat format serupa kira-kira begini urutannya:

Lanjut baca…