72 Jam Tanpa Handphone

Kereta melaju santai dari stasiun Jatinegara menuju Manggarai. Suasana tidak ramai seperti biasanya. Jika mau, beberapa orang bisa selonjoran atau rebahan di bangku-bangkunya. Mungkin karena langit sudah terlampau pekat, sebagian pengguna KRL sudah lebih dulu rebah di ranjang hangat di rumah-rumah mereka.

Aku duduk tepat di bagian tengah bangku yang panjang. Kepalaku bersadar pada aluminium pembatas antara dua jendela. Sesekali mataku terpejam. Merasakan terpaan udara yang diembuskan oleh mesin pendingin ruangan. Merasakan letih yang menjalar di sekujur tubuhku dengan malu-malu. Membayangkan sesampainya di rumah aku disambut Ayana Jihye Moon.

Bibirku menyungging tipis. Continue reading →

Iklan

Membanding-bandingkan Hidup

Udah lama saya berniat nulis di blog ini lagi tapi belum ada hal yang mendorong saya dengan kuat untuk segera melakukanya, sampai akhirnya saya buka twitter dan menemukan sebuah twit sederhana dari seorang teman. Begini:

2018: Yogyakarta – Surabaya – Lombok – Yogyakarta – Palembang – Bandung – Yogyakarta – Jambi – Surabaya – Bali

Paham kan maksudnya?

Continue reading →

Achievement Unlocked: Visual Novel Pertama

Alhamdulillah…

Setelah kurang lebih 5 bulan mengembangkan Partner in Cream bersama teman-teman kantor akhirnya Jumat kemarin kami berhasil mengunggah episode ke 9, yang mana merupakan episode terakhir dari visual novel ini.

Buat saya pribadi rasanya sangat melegakan. Hampir-hampir saya melakukan selebrasi buka baju seperti Jojo ketika berhasil mengalahkan lawannya di laga final bulu tangkis tunggal putera Asian Games 2018. Saya urungkan niat itu mengingat badan saya yang gak ada keren-kerennya. Terlebih, takut bulu ketek saya nyolok mata teman-teman.

Continue reading →

#BukaInspirasi Digitalisasi Literasi

Orang Indonesia selalu disebut-sebut punya minat baca yang rendah. Bahkan menurut study Most Literred Nation in The World 2016, minat baca di Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara. Awalnya saya gak begitu percaya, sampai akhirnya saya sadar kalau orang-orang di sekitar saya memang sedikit banget yang suka membaca, khususnya buku. Mereka baru akan membaca kalau pilihan lainnya adalah nonton video Yangleks.

Sebagai orang yang suka membaca karena tau banyak manfaat yang bisa didapat dari kegiatan itu, saya merasa cukup sedih dengan fakta demikian. Gimana gak sedih, salah satu manfaat membaca adalah mencegah kita dari penyakit Alzheimer atau penurunan daya ingat. Saya gak mau nanti pas menyapa teman di jalan, lalu salaman, tepuk punggung, kemudian malah direspon dengan “Hmm… tunggu. Anda siapa ya?”.

Continue reading →

Menjadi Game Developer

Terasa banget udah 18 bulan saya bekerja di Binary Studio 54, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang game development. Sejauh ini saya ngerasain gimana membuat dan mengembangkan game mulai dari game casual, RPG, free roam, strategi, sampai yang terbaru visual novel. Bagaimana rasanya? Capek bosque!

Iya, capek. Tapi kalau ditanya enak apa enggak, ya jujur saya bilang enak. Enak bukan karena bikin sesuatu yang menghibur orang lain, melainkan karena memang di industri kreatif inilah jiwa saya hidup. Saya ngelakuin apa yang saya suka seperti menulis, desain grafis, marketing dan game design. Dan itu bukan berarti membuat saya gak bisa capek ngelakuinnya. Yang namanya kerja ya pasti capek. Patung kucing yang dadah-dadah kalau ditanya juga setuju.

Continue reading →

Virus Generasi Muda

Di malam kedua Lebaran saya mengistirahatkan diri dengan menonton tv sambil tiduran. Saya memijit tombol di remot berkali-kali sebelum akhirnya berhenti di SCVT. Di channel itu sedang nampak seorang laki-laki dan perempuan berdialog seputar cinta. Ekspresi wajah keduanya begitu menjiwai. Alunan backsound yang syahdu membuat suasana jadi begitu romatis.

Kalau saja saya gak lebih dulu geli melihat adegan tersebut, pasti saya hanyut ke dalam kisahnya. Yang saya maksud geli bukan seperti rasa yang dihasilkan ketika seorang dikelitiki telapak kakinya, tapi lebih seperti geli yang ingin mengeluarkan isi perut lewat mulut. Mengapa?

Continue reading →

Satu Hari Setelah Senin

Jam di tangan saya sudah menunjukkan pukul 09.30 dan kereta yang saya naiki masih tertahan di stasiun Depok sejak empat puluh lima menit yang lalu. Secara teknis saya pasti terlambat masuk kantor, karena mustahil bisa tiba di Salemba dengan sisa waktu tiga puluh menit, kecuali saya naik Shinkansen atau dilontarkan bersama rudal Rusia.

Tapi ini bukan soal kecepatan, hanya saja ada yang tak beres pada sistem operasional KRL. Penyebabnya apa saya kurang tahu, tapi yang pasti telat datang ke kantor akan makin memperburuk citra saya sebagai anak baru. Bagaimanapun saya pernah ditegur langsung oleh Bos karena beberapa kali terlambat. Saya khawatir akan dipecat. Saya belum siap dipecat. Saya lupa password akun Jobstreet.

Continue reading →